Connect with us

AT-TADRI

Niat: Perbarui Perahumu, Karena Lautan Sangat Dalam

Published

on

Ada fase dalam hidup ketika seseorang tiba-tiba lelah tanpa tahu sebabnya.
Langkahnya masih berjalan, tetapi hatinya terasa jauh tertinggal. Ia tetap tertawa, tetap berbicara, tetap melakukan rutinitas seperti biasa, namun ada sesuatu di dalam dirinya yang perlahan kosong.


Bukan karena ia tidak punya tujuan. Kadang justru karena terlalu banyak tujuan.

  • Ia ingin berhasil.
  • Ingin dihargai.
  • Ingin diakui.
  • Ingin terlihat berarti.


Sampai akhirnya ia lupa bertanya:
Untuk siapa sebenarnya semua ini?”


Hidup memang seperti lautan. Dari tepi pantai, semuanya terlihat indah. Ombak tampak jinak. Langit terlihat bersahabat. Tetapi semakin jauh seseorang berlayar, semakin ia sadar bahwa laut tidak hanya menyimpan keindahan. Laut juga menyimpan kedalaman.
Dan tidak semua orang tenggelam karena badai besar. Sebagian tenggelam karena perahunya perlahan bocor dari dalam.

Itulah niat.


Hal yang paling tersembunyi, tetapi paling menentukan arah perjalanan manusia.
Karena kadang seseorang terlihat sedang menuju Allah, padahal ia sedang menuju penilaian manusia.


Ia mulai belajar agar terlihat pintar, Berbuat baik agar terlihat berbeda, Bekerja keras agar terakui keberadaannya. Dan anehnya, semakin ia mengejar pengakuan manusia, semakin hatinya terasa kosong.


Sebab manusia memang tidak tercipta untuk hidup dari tepuk tangan sesama manusia.
Ada pujian yang terdengar nyaring di telinga, tetapi tidak mampu menenangkan hati ketika malam tiba.


Karena hati tahu mana yang tulus dan mana yang hanya pertunjukan.
Itulah mengapa para ulama sangat menjaga niat mereka. Bukan karena mereka tidak takut amalnya sedikit, tetapi karena mereka takut amal yang banyak ternyata kehilangan arah.
Rasulullah ﷺ bersabda:


“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”


Kalimat itu sederhana, tetapi seperti cermin yang memaksa seseorang melihat ke dalam diri. Kadang yang perlu kita perbaiki bukan langkah kita, tetapi alasan di balik langkah itu. Sebab ada orang yang berjalan cepat tetapi semakin jauh dari ketenangan diri.
Niat juga tidak selalu rusak dalam sekali waktu. Ia berubah perlahan.
Awalnya ikhlas Lalu mulai menikmati pujian. Lalu kecewa ketika tidak di hargai dan marah ketika tidak di anggap.


Dan tanpa sadar, manusia mulai menjadikan manusia lain sebagai tujuan hidupnya.
Padahal hati yang menggantungkan niat pada manusia akan mudah lelah. Karena manusia berubah. Penilaian mereka berubah. Hari ini terpuji, besok terlupakan.
Sementara sesuatu yang berporos karena Allah pasti memiliki akar yang lebih dalam dari sekadar pengakuan.


Mungkin itulah mengapa hidup terasa begitu melelahkan bagi sebagian orang. Bukan karena jalannya terlalu berat, tetapi karena hatinya membawa terlalu banyak hal yang tidak perlu seperti: Terlalu ingin terpandang, dan terlalu banyak ingin menjadi sesuatu di mata manusia.


Padahal tidak semua perjalanan harus terlihat orang lain untuk menjadi berarti.
Ada amal-amal sunyi yang justru lebih bercahaya. Ada doa-doa diam yang justru lebih dekat ke langit. Dan ada hati yang tidak di kenal manusia, tetapi terkenal dihadapan Allah.


Karena itu, sesekali seseorang perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia lalu bertanya kepada diri sendiri:


“Kalau tidak ada satu pun manusia yang melihatku, apakah aku masih akan melakukan ini?”


Pertanyaan itu mungkin menyakitkan.

Tetapi kadang kejujuran memang tidak datang dengan rasa nyaman. karna

Lautan kehidupan terlalu dalam untuk diseberangi dengan hati yang rapuh.
Maka perbarui perahumu, Bukan layar luarnya, Bukan warna catnya.
Tetapi bagian yang paling jarang terlihat oleh orang, yakni niatmu.


Karena bisa jadi yang membuat seseorang selamat bukan besarnya amal yang tampak di mata manusia, tetapi satu hati yang sneyap dang sunyi tetap ikhlas di tengah gelombang dunia yang bising.

penulis: anugrah24

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2023 Miftahul Huda Pusat.

Cover
Radio Santri
Murottal, Kajian, dan Sholawat
🔉 🔊
Jual paving block depok.