Santri Nulis
aku dan Geografi yang Salah
Aku menggambar peta Tuhan
di langit yang tinggi
di doa-doa panjang yang kujahit rapi
seperti surat untuk alamat yang tak pasti.
Kupanggil Ia dari kejauhan
dengan suara yang kupaksa khusyuk
namun gema selalu kembali
tanpa membawa jawaban.
Kukira Ia bersemayam di tempat tinggi
di antara awan yang tak tersentuh luka.
Sampai hatiku runtuh
seperti kota tua yang dilupakan waktu
temboknya runtuh tanpa upacara
debu beterbangan membawa kenangan.
Di tengah puing itu
aku duduk tanpa bahasa
tanpa doa yang utuh
hanya napas yang patah-patah.
Dan di situlah
sesuatu tetap tinggal.
Bukan sebagai hakim
bukan sebagai penonton
melainkan sebagai denyut
yang setia meski rumahnya hancur.
Aku salah menggambar peta.
Tuhan bukan di utara atau selatan
bukan di puncak atau cakrawala.
Ia berdiam
di koordinat yang paling rapuh
di titik di mana aku berhenti berpura-pura kuat.
Di sana
Ia tidak perlu dipanggil.
Karena Ia tidak pernah pergi.
Penulis: anugrah24| Mifhood
