RIWAYAT PENA
Tajuddin as-Subuki dan Jam’ul al-Jawami’: Mahkota Ushul Fiqh yang Tak Pernah Padam
Dalam kajian ushul fiqh, khususnya di lingkungan pesantren salaf, kitab Jam’ul al-Jawami’ merupakan sebuah mahakarya yang seolah tak pernah kehilangan cahaya. Kitab ini karya Seorang ulama besar mazhab Syafi’i, Tajuddin as-Subuki, sosok yang oleh para santri kerap di juluki sebagai “mahkota agama dari desa Subuki”.
Di banyak pesantren, beredar sebuah idiom yang cukup terkenal:
“Belum dikatakan menguasai ilmu ushul fiqh sebelum mampu memahami Jam’ul al-Jawami’.”
Ungkapan itu tentu bukan tanpa alasan. Jam’ul al-Jawami’ bukan sekadar kitab ringkas yang penuh dengan istilah teknis ushul fiqh saja, melainkan hasil perenungan panjang, penelitian mendalam, dan sintesis keilmuan yang luar biasa luas. Dalam mukadimah kitabnya, Tajuddin as-Subuki sendiri menjelaskan:
“Aku menuliskan Jam’ul al-Jawami’ dengan kaidahkaidah yang di sepakati para ulama. dengan sangat berhati-hati dan bersungguh-sungguh pula, dan Aku telah meneliti lebih dari seratus karya tulis ulama terdahulu. Kitab ini mencakup seluruh karya-karyaku sebelumnya dalam ilmu ushul fiqh.”
Kalimat itu memperlihatkan bagaimana kitab tersebut lahir bukan dari kerja intelektual yang tergesa-gesa, melainkan dari perjalanan ilmiah yang matang. Jam’ul al-Jawami’ ibarat lautan yang memadat menjadi setetes tinta: ringkas, tetapi sangat dalam.
Lahir dari Keluarga Ilmu
Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahhab bin Ali bin Abdul Kafi bin Ali bin Tamam as-Subuki. Ia lebih masyhur dengan gelar Tajuddin as-Subuki. Ayahnya adalah ulama besar yang juga sangat terkenal, Taqiyuddin as-Subuki, yang mashur dengan julukan “pelindung agama dari desa Subuki”.
Keluarga mereka berasal dari sebuah desa di Provinsi Manufiyyah, Mesir, bernama Subuki al-‘Uwaidhat. Silsilah keluarganya bahkan tersambung kepada kaum Anshar, para sahabat Nabi ﷺ dari Madinah.
Menurut Ibnu Imad al-Hanbali dalam kitab Syudzurat adz-Dzahab fi Akhbar min Dzahab, Tajuddin as-Subuki lahir di kota Kairo pada tahun 727 H. Ketika ayahnya di angkat menjadi qadhi di Damaskus pada tahun 739 H, Tajuddin kecil turut di bawa ke Suriah. Sejak usia sebelas tahun, ia telah berada di tengah lingkaran ulama-ulama besar Syam.
Di sanalah kecerdasannya mulai menempa nama.
Tumbuh di Tengah Para Raksasa Ilmu
Tajuddin as-Subuki belajar kepada banyak ulama besar pada masanya. Di antara guru-gurunya adalah ayahnya sendiri, Taqiyuddin as-Subuki, kemudian Syamsuddin adz-Dzahabi, Abu Hayyan al-Andalusi, serta sejumlah ulama besar lainnya.
Kecerdasan dan daya hafalnya di kenal melampaui rata-rata. Dalam usia yang masih sangat muda, ia telah memperoleh izin untuk mengajar dan berfatwa dari gurunya, Ibnu Naqib, bahkan sebelum genap berusia delapan belas tahun.
Ayahnya kemudian memberinya gelar Mufti al-Islam setelah berhasil memecahkan persoalan pelik dalam fiqih mazhab Syafi’i. Sebuah pencapaian yang bahkan bagi ulama dewasa pun tidak mudah diraih.
Guru beliau, Syamsuddin adz-Dzahabi, pernah berkata:
“Ia telah menulis beberapa hadits dariku. Aku berharap ia terus menekuni ilmu hingga kelak menjadi pengajar dan mufti.”
Pujian terhadap Tajuddin terus mengalir. Suatu ketika, Yusuf al-Mizzi menyebutnya sebagai calon ulama besar dalam bidang hadits. Mendengar pujian itu, sang ayah justru merendah dan berkata bahwa anaknya masih terlalu muda untuk dipuji setinggi itu.
Namun adz-Dzahabi menimpali:
“Anakmu berada di atas rata-rata. Ia adalah ahli hadits yang sangat bagus.”
Dialog itu seperti memperlihatkan dua samudra yang saling menjaga adab: seorang ayah yang tawadhu’, dan para ulama yang jujur mengakui kehebatan murid muda tersebut.
Ulama Muda dengan Kepercayaan Diri Besar
Jalaluddin as-Suyuthi menyebut bahwa Tajuddin as-Subuki mulai aktif menulis karya ilmiah sejak usia dua puluh tahun. Produktivitasnya luar biasa, sementara keberaniannya dalam menyatakan kapasitas keilmuan juga terkenal. Dalam salah satu suratnya kepada penguasa Suriah, ia pernah menulis:
“Pada masa sekarang aku telah mencapai derajat ijtihad yang tak tertandingi.”
Kalimat itu mungkin terdengar sangat berani. Namun as-Suyuthi sendiri memberikan komentar menarik:
“Pada zamannya, tidak ada yang menampik bahwa Tajuddin as-Subuki adalah seorang pakar yang tiada tanding.”
Kepercayaan diri Tajuddin bukan lahir dari kesombongan kosong, melainkan dari kapasitas ilmu yang benar-benar diakui para ulama semasanya.
Pembela Manhaj Asy’ariyyah
Selain dikenal sebagai ahli ushul fiqh, Tajuddin as-Subuki juga merupakan pembela utama manhaj Abu Hasan al-Asy’ari.
Dalam Thabaqat Syafi’iyyah al-Kubra, ia menulis:
“Ketahuilah, sungguh Abu Hasan tidaklah membuat bid’ah pemikiran dan tidak pula mendirikan mazhab baru. Akan tetapi ia meneguhkan mazhab ulama salaf dan membela manhaj para sahabat Rasulullah ﷺ.”
Bagi Tajuddin, penisbatan kepada Asy’ariyyah bukan berarti menciptakan agama baru, melainkan upaya mempertahankan akidah salaf dengan argumentasi yang sistematis dan kokoh.
Tulisan-tulisannya memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan Islam tidak hanya dibangun di atas hafalan, tetapi juga di atas debat ilmiah, argumentasi, dan pertahanan intelektual yang matang.
Wafat Muda, Warisan Ilmunya Mendunia
Tajuddin as-Subuki wafat pada tahun 771 H dalam usia 43 tahun. Umurnya memang singkat, tetapi jejak ilmunya menjalar jauh melampaui batas zaman.
Dalam bidang ushul fiqh saja, ia meninggalkan sejumlah karya besar seperti:
- al-Ibhaj Syarh al-Minhaj
- Raf’ul Hajib ‘an Mukhtashar Ibnu Hajib
- Jam’ul al-Jawami’
- Man’ul Mawani’
Kitab-kitab tersebut masih dipelajari di berbagai dunia Islam hingga hari ini, terutama di pesantren-pesantren tradisional yang menjadikan ushul fiqh sebagai disiplin inti.
Pena yang Tak Pernah Beristirahat
Semangat menulis Tajuddin as-Subuki tergambar jelas dalam mukadimah kitab Man’ul Mawani’. Ia menulis:
“Tidak berlalu waktu sedikit pun dari kami kecuali diisi dengan penulisan karya ilmiah. Tidak berlalu zaman kecuali karya-karya kami memecahkan persoalan rumit. Dan tidak berlalu satu masa pun kecuali pena kami terus dipakai untuk menyusun dan merevisi.”
Kalimat itu terasa seperti denyut nadi seorang ulama yang hidupnya benar-benar tenggelam dalam ilmu. Pena baginya bukan sekadar alat tulis, melainkan nafas kedua.
Di tengah dunia hari ini yang sering gaduh oleh hal-hal remeh dan cepat berlalu, sosok Tajuddin as-Subuki menghadirkan pelajaran penting: bahwa warisan terbesar seorang alim bukanlah popularitas, melainkan ilmu yang terus hidup bahkan setelah jasadnya lama berbaring di tanah.