AT-TADRI
Keinginan adalah Bukti bahwa Jiwa Masih Bergerak
Manusia tidak mungkin hidup tanpa keinginan.
Selama seseorang masih ingin berubah, ingin memperbaiki diri, ingin mencapai sesuatu, berarti di dalam dirinya masih ada kehidupan yang bekerja diam-diam.
Karena itu, banyak keinginan bukan sesuatu yang memalukan. Justru itu tanda bahwa manusia belum menyerah pada hidupnya sendiri. Tetapi keinginan memiliki satu ujian:
apakah ia hanya akan tinggal sebagai lintasan pikiran, atau benar-benar turun menjadi tindakan.
Sebab tidak sedikit orang yang penuh mimpi, namun hidupnya tetap diam di tempat yang sama. Seperti kapal megah yang lampunya menyala terang, tetapi jangkarnya tidak pernah di angkat.
Pandai Menginginkan, Tapi Tidak Pernah melangkah
Sebagian orang terbiasa menikmati rasa “ingin” tanpa pernah bersentuhan dengan proses. Mereka senang membayangkan hasil: ingin sukses, ingin tenang, ingin dekat dengan Allah, ingin punya masa depan yang baik.
Namun semua itu berhenti sebatas kalimat yang terus berputar dalam kepala. Padahal keinginan yang terus tersimpan tanpa tindakan perlahan berubah menjadi beban batin. Karena hati tahu:
Ia sering ingin bertumbuh, tetapi dirinya sendiri tidak membiarkannya berjalan.
Dalam syariat, Islam tidak memuliakan angan kosong. Islam memuliakan niat yang tersandar dengan amal. Allah berfirman:
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ٣٩
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Ayat ini seakan menutup pintu bagi khayalan yang malas bergerak. Bahwa kehidupan tidak terbentuk oleh harapan semata, tetapi oleh usaha yang dipaksa terus hidup walau lelah, seperti yang kita kenal dengan kalimat “terpaksa – terbiasa – bisa”.
Masalah Terbesar Bukan Gagal, Tetapi Terlalu Lama Menunda
Sebenarnya manusia itu bukan tidak mampu. Mereka hanya terlalu lama menunggu: menunggu percaya diri, menunggu suasana hati, menunggu waktu yang sempurna. Padahal sering kali
“waktu yang sempurna” hanyalah nama lain dari ketakutan yang diberi kursi nyaman. “
Akhirnya hidup habis untuk persiapan tanpa keberangkatan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إذا أصبحت فلا تحدث نفسك بالمساء وإذا أمسيت فلا تحدث نفسك بالصباح وخذ من حياتك لموتك ومن صحتك لسقمك فإنك يا عبد الله لا تدري ما اسمك غدا
Artinya,
“Jika engkau berada di pagi hari, maka jangan mengkhayal akan apa yang kamu dapatkan di sore hari. Jika kamu berada di sore hari, maka jangan mengkhayal akan apa yang akan kamu dapatkan di pagi hari. Ikatlah kehidupanmu dengan kematianmu. Ikatlah sehatmu dengan sakitmu. Karena sesungguhnya dirimu, wahai Abdullah! Tidak akan tahu seperti apa namamu esok” (HR Ibnu Hibban). Ihya Ulumuddin: Al-ghazali
Hadits di atas memberikan sebuah pengertian bahwa seharusnya semua manusia tidak perlu berangan-angan terlalu panjang tentang masa depan setiap materi dan kesenangan-kesenangan dunia lainnya.
jelas sudah ketidak mampuan seseorang tidak hanya soal fisik, tetapi keberanian menggerakkan diri ketika rasa malas, takut, dan ragu sedang menarik tubuh ke belakang.
Karena manusia yang hidup bukan yang tidak takut gagal, tetapi yang tetap berjalan meski ketakutan masih ikut di pundaknya.
Penyesalan yang Sunyi
Tidak semua penyesalan datang dengan tangisan. Sebagian hadir perlahan saat seseorang melihat hidupnya sendiri dan berkata:
“Dulu aku pernah ingin menjadi sesuatu…”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi berat. Karena ia lahir bukan dari kegagalan, melainkan dari kesempatan yang tidak pernah mendapat langkah pertama.
Ada mimpi yang tidak mati karena mustahil, tetapi karena terlalu sering di tunda. Dan ironisnya, semakin lama seseorang hanya memikirkan keinginannya, semakin ia merasa seolah sudah dekat dengan tujuan. Padahal ia baru akrab dengan bayangannya saja. imgat kawan kawan
“Memikirkan jalan bukan berarti sedang berjalan.”
Menjadi Manusia Berarti Berani Bergerak
Pada akhirnya, hidup tidak berubah karena apa yang kita rencanakan di kepala, tetapi karena apa yang benar-benar kita lakukan meski kecil. Satu langkah nyata lebih berharga daripada seribu niat yang hanya berputar dalam pikiran.
Maka jangan sibuk mengumpulkan keinginan sampai lupa menjalankan satu di antaranya. Mulailah walau kecil, melangkahlah walau belum sempurna. berjalanlah walau pelan. Karena pohon tidak tumbuh dari wacana tentang benih. Ia tumbuh karena berani menembus tanah yang gelap lebih dulu.
Keinginan Tidak Pernah Kekurangan Tempat di Kepala, yang Kurang Adalah Keberanian Membawanya ke Dunia Nyata
Penulis: anugrah24
