Connect with us

Cerpen

CERPEN: Di Antara Kitab, Santri dan Kelaparan

Published

on

Di sudut pesantren yang teboknya mulai termakan usia, hidup seorang santri bernama Hamdan. Ia datang dari sebuah kampung kecil yang bahkan tidak terlacak dalam peta oleh sebagian orang. Ayahnya seorang buruh tani musiman. Ibunya menjahit pakaian tetangga dengan mesin tua yang suaranya terdengar lebih letih daripada pemiliknya.

Kemiskinan bagi Hamdan bukan peristiwa. Ia adalah udara yang setiap hari dihirup tanpa pernah dipertanyakan.

Sarungnya telah memudar oleh terlalu banyak pencucian. Sandalnya lebih sering dijahit daripada diganti. Ketika santri lain pulang membawa tas berisi pakaian baru setelah liburan, Hamdan kembali dengan barang yang sama, hanya sedikit lebih usang.

Namun ada satu hal yang tidak pernah tampak usang pada dalam hidupnya: rasa lapar terhadap ilmu.

Ia membaca apa saja yang bisa tersentuh ole matanya. Kitab yang sobek. Buku yang kehilangan sampul. Majalah bekas pembungkus gorengan. Catatan tua yang tertinggal di rak perpustakaan.

Seolah-olah setiap huruf adalah butiran gandum yang mampu menyelamatkannya dari kelaparan ilmu.

Di malam hari, ketika asrama tenggelam dalam dengkur dan kelelahan, Hamdan masih duduk di bawah lampu yang cahayanya lebih menyerupai sisa harapan daripada penerangan. Bayangannya memanjang di lantai semen yang dingin, menyatu dengan tumpukan kitab yang ia pinjam.

Ia tidak memiliki banyak hal.

Tetapi pikirannya perlahan berubah menjadi rumah yang penuh dengan jendela dunia.

karna Semakin banyak ia belajar, semakin luas penglihatannya terhadap dunia.


Ada masa ketika kebutuhan hidup mendesaknya lebih keras daripada biasanya.

Ayahnya sakit.

Kiriman uang berhenti datang.

Beberapa hari ia bertahan dengan makan seadanya. Kadang cukup dengan nasi dan garam. Kadang hanya dengan menunda rasa lapar sampai tubuh terbiasa mengabaikannya.

Di saat seperti itu, banyak orang akan menggadaikan barang yang mereka miliki.

Namun Hamdan segera menyadari bahwa ia hampir tidak memiliki apa-apa untuk digadaikan.

Tidak ada telepon genggam mahal. Apalagi motor dan perhiasan.

Yang ia punya hanyalah beberapa kitab dengan pinggiran halaman yang penuh coretan.

Malam itu ia memandangi kitab-kitab tersebut cukup lama.

Lalu sebuah pikiran melintas.

Aneh sekaligus menenangkan.

Ia mungkin bisa kehilangan uang.

Ia mungkin bisa kehilangan pakaian.

Bahkan ia mungkin bisa kehilangan tempat tinggal.

Tetapi ada sesuatu yang tidak dapat terusir oleh kemiskinan yakni

Pengetahuan yang telah menetap dalam akalnya.

Pengetahuan itu telah berpindah dari kertas ke kesadaran, dari tinta ke pemahaman. Dan tidak ada pegadaian di dunia yang mampu menaksir nilainya.


Tahun-tahun berlalu seperti halaman kitab yang terus ia putar balik perlahan.

Hamdan tetap sederhana. Kehidupannya tidak berubah menjadi kisah keajaiban yang tiba-tiba membawanya pada kemewahan.

Namun ada perubahan lain yang jauh lebih sunyi.

Orang-orang mulai datang kepadanya untuk bertanya.

Mula-mula satu dua orang.

Kemudian semakin banyak.

Mereka mencari penjelasan ketika bingung. meminta pendapat ketika ragu. dan datang membawa pertanyaan dan pulang membawa pemahaman.

Hamdan tidak pernah benar-benar menjadi kaya.

Setidaknya tidak dalam pengertian yang biasa digunakan manusia.

Tetapi setiap kali melihat rak-rak buku yang semakin penuh, setiap kali menemukan gagasan baru yang membuka cakrawala pikirannya, ia merasa memiliki sesuatu yang bahkan tidak dapat dibeli oleh orang-orang yang jauh lebih berada darinya.

Ia memahami satu hal yang terlambat disadari banyak orang:

Kemiskinan yang paling berat bukanlah ketika kantong seseorang kosong. Melainkan ketika pikirannya berhenti bertumbuh.

Penulis: anugrah24

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2023 Miftahul Huda Pusat.

Cover
Radio Santri
Murottal, Kajian, dan Sholawat
🔉 🔊
Lexonrank | free link building tool | automated seo backlinks.