Connect with us

Aqidah wa Falsafatuha

SAAT AKAL MENEMUKAN TUHAN : Memahami Ma’rifatullah sebagai Kewajiban Pertama

Published

on

Ketika berbicara tentang awal mula perjalanan seorang manusia menuju keimanan, muncul sebuah pertanyaan menarik: apa sebenarnya kewajiban pertama yang dibebankan Allah kepada manusia?

Sebagian orang mungkin spontan menjawab syahadat. Jawaban itu tentu tidak keliru, sebab syahadat adalah gerbang masuk Islam. Namun para ulama Ahlussunnah wal Jamaah mengajak kita melihat lebih dalam. Sebab sebuah kesaksian tidak mungkin lahir tanpa pengetahuan, dan pengakuan tidak mungkin terucap tanpa keyakinan.

Karena itulah, dalam khazanah ilmu tauhid, pembahasan kewajiban pertama manusia tidak berhenti pada lisan yang mengucapkan syahadat, melainkan dimulai dari hati dan akal yang mengenal Tuhannya.

Saat Al-Qur’an Memerintahkan untuk “Mengetahui”

Menariknya, Al-Qur’an sendiri mendahulukan perintah untuk mengetahui sebelum memerintahkan pengakuan.

Allah SWT berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.” (QS Muhammad: 19)

Ayat ini menjadi salah satu landasan utama Imam Abu Hasan Al-Asy’ari ketika menjelaskan bahwa kewajiban pertama manusia adalah ma’rifatullah, yakni mengenal Allah SWT.

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggunakan kata fa’lam (maka ketahuilah). Ayat tersebut tidak diawali dengan perintah bersaksi, melainkan dengan perintah mengetahui. Seolah Al-Qur’an sedang mengajarkan bahwa keyakinan yang kokoh harus dibangun di atas pengetahuan, bukan sekadar ucapan.

Penguatan yang sama juga tampak dalam firman Allah:

فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَوْلَاكُمْ

“Ketahuilah bahwa Allah adalah pelindung kalian.” (QS Al-Anfal: 40)

Dan firman-Nya:

فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ

“Maka ketahuilah bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia.” (QS Hud: 14)

Berdasarkan ayat-ayat inilah banyak ulama Asy’ariyah berpendapat bahwa mengenal Allah merupakan fondasi pertama sebelum kewajiban-kewajiban lainnya.

Mengapa Mengenal Allah Menjadi Pondasi?

Bayangkan seseorang diminta bersaksi di pengadilan tentang sesuatu yang sama sekali tidak diketahuinya. Tentu kesaksiannya tidak memiliki nilai.

Begitu pula syahadat. Bagaimana seseorang dapat bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah jika ia belum mengenal siapa yang sedang ia saksikan?

Karena itu, Imam Al-Baihaqi menjelaskan:

أول ما يجب على العبد معرفة الله تعالى والإقرار به

“Hal pertama yang wajib bagi seorang hamba adalah mengenal Allah dan mengakui-Nya.”

Dari sini terlihat bahwa pengakuan kepada Allah bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari pengetahuan yang melahirkan keyakinan, lalu keyakinan itu menjelma menjadi pengakuan dan ketaatan.

Ketika Akal Diajak Menelusuri Jejak Sang Pencipta

Meski demikian, tidak semua ulama menjelaskan persoalan ini dengan redaksi yang sama.

Imam Al-Baqillani, misalnya, memandang bahwa kewajiban pertama manusia adalah nadhar, yaitu berpikir dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Beliau mengatakan:

أول ما فرض الله عز وجل على جميع العباد النظر في آياته

“Hal pertama yang diwajibkan Allah kepada seluruh hamba adalah memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya.”

Pandangan ini lahir dari pemahaman sederhana: seseorang tidak akan mengenal Allah tanpa proses berpikir.

Langit yang terbentang luas, pergantian malam dan siang, keteraturan alam semesta, hingga kehidupan manusia yang begitu kompleks bukan sekadar pemandangan biasa. Semuanya merupakan ayat-ayat kauniyah yang mengarahkan manusia kepada keberadaan Sang Pencipta.

Maka menurut Al-Baqillani, berpikir adalah pintu yang mengantarkan seseorang menuju ma’rifatullah.

Bahkan Sebelum Berpikir, Ada Kehendak untuk Mencari Kebenaran

Pembahasan menjadi semakin menarik ketika Imam Al-Haramain Al-Juwaini memberikan sudut pandang yang lebih rinci.

Beliau menyatakan:

أول ما يجب على العاقل البالغ القصد إلى النظر الصحيح

“Awal kewajiban bagi orang yang berakal dan telah baligh adalah menyengaja melakukan pemikiran yang benar.”

Mengapa bukan berpikir langsung?

Karena berpikir sendiri tidak akan terjadi tanpa adanya kemauan untuk mencari kebenaran. Seseorang harus terlebih dahulu membuka dirinya, mengarahkan akalnya, dan bersedia menelusuri bukti-bukti yang mengantarkannya kepada Allah.

Dengan kata lain, Al-Juwaini sedang berbicara tentang langkah paling awal dalam perjalanan intelektual manusia: niat untuk mencari kebenaran.

Tiga Pendapat, Satu Muara

Sekilas pendapat Al-Asy’ari, Al-Baqillani, dan Al-Juwaini tampak berbeda. Namun jika dicermati, ketiganya sebenarnya sedang membahas satu rangkaian yang sama dari titik yang berbeda.

Al-Juwaini berbicara tentang awal perjalanan: kehendak untuk berpikir.

Al-Baqillani berbicara tentang prosesnya: berpikir dan merenung.

Sedangkan Al-Asy’ari berbicara tentang hasil akhirnya: mengenal Allah dengan keyakinan yang mantap.

Karena itu para ulama menjelaskan bahwa perbedaan tersebut lebih merupakan perbedaan sudut pandang, bukan pertentangan substansi.

Tauhid, Akar yang Menopang Seluruh Amal

Dari sinilah para ulama menempatkan ilmu tauhid pada posisi yang sangat istimewa. Seluruh amal ibadah pada akhirnya berdiri di atas keyakinan kepada Allah.

Shalat, puasa, zakat, haji, hingga berbagai bentuk ketaatan lainnya ibarat cabang dan buah dari sebuah pohon. Adapun tauhid adalah akarnya. Jika akar itu kuat, pohon akan tumbuh kokoh. Namun jika akarnya tidak ada, cabang dan buah tidak akan pernah lahir.

Maka ketika para ulama mengatakan bahwa kewajiban pertama manusia adalah mengenal Allah, mereka sebenarnya sedang menunjukkan fondasi yang menopang seluruh bangunan agama.

Dari Mengenal Menuju Bersaksi

Pada akhirnya, syahadat tetap menjadi deklarasi keimanan yang sangat agung. Namun syahadat yang hidup bukan sekadar rangkaian kata yang keluar dari lisan.

Ia lahir dari akal yang berpikir, hati yang meyakini, dan jiwa yang mengenal Tuhannya.

Karena itu, menurut pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, perjalanan menuju Allah dimulai dari ma’rifatullah. Dari pengetahuan lahir keyakinan. Dari keyakinan lahir pengakuan. Dan dari pengakuan lahirlah ketaatan yang menjadi tujuan seluruh ajaran Islam.

Sebagaimana isyarat Al-Qur’an dalam firman-Nya,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Fa’lam annahu la ilaha illallah”

ketahuilah terlebih dahulu, lalu bersaksilah dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan. Di situlah fondasi keimanan dibangun.

Penulis: anugra24

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2023 Miftahul Huda Pusat.

Cover
Radio Santri
Murottal, Kajian, dan Sholawat
🔉 🔊
heavy equipment transport orange ny.