Connect with us

AT-TADRI

Pohon yang Rindang, Tetapi Tidak Berbuah.

Published

on

Ada pohon yang tumbuh begitu tinggi. Batangnya kokoh, dahannya menjulur luas, dan daunnya begitu lebat hingga dari kejauhan tampak indah dipandang. Pohon itu menghadirkan keteduhan bagi siapa saja yang berada di bawahnya. Banyak orang mengaguminya karena kerindangannya, bahkan menganggapnya sebagai pohon yang paling bernilai di antara pohon-pohon lain di sekitarnya. Namun ketika musim berbuah tiba, kenyataan yang sesungguhnya mulai terlihat. Tidak ada buah yang dapat dipetik darinya. Tidak ada hasil yang bisa dinikmati. Ia hanya menampilkan kerindangan, tetapi tidak memberikan manfaat yang menjadi tujuan utama keberadaan sebuah pohon.

Perumpamaan ini sering kali menggambarkan keadaan manusia. Dalam kehidupan, tidak sedikit orang yang tampak begitu mengesankan di hadapan sesamanya. Mereka sangat populer, banyak pula pujian karena kemampuan yang ia miliki, dan sering menjadi pusat perhatian dalam berbagai kesempatan.

Dari luar, kehidupan mereka terlihat berhasil dan penuh pencapaian. Akan tetapi, tidak semua yang tampak besar di mata manusia memiliki nilai yang besar di sisi Allah. Sebab manusia hanya mampu menilai apa yang terlihat, sedangkan Allah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu hati dan niat yang tersembunyi di balik setiap perbuatan.

Ketika Manusia Sibuk Mempercantik Daun

Di zaman yang sangat menekankan pencitraan seperti saat ini, seseorang dapat dengan mudah terlihat baik tanpa benar-benar menjadi baik. Media sosial, lingkungan pergaulan, bahkan budaya populer sering kali mendorong manusia untuk membangun kesan yang menarik di hadapan orang lain. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk mempercantik tampilan luar daripada memperbaiki keadaan batin. Mereka berusaha terlihat saleh, terlihat sukses, terlihat bijaksana, atau terlihat peduli, tetapi lupa menanyakan kepada diri sendiri apakah semua itu benar-benar lahir dari keikhlasan atau hanya keinginan untuk mendapatkan pengakuan!.

Tidak sedikit manusia yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun citra, namun sedikit waktu muhasabah untuk memperbaiki niat. Padahal sesuatu yang tampak indah di hadapan manusia belum tentu memiliki nilai di sisi Allah. Apa yang terpuji hari ini bisa saja menjadi sesuatu yang tidak bernilai ketika ditimbang di akhirat kelak.

Buah yang Tidak Pernah Mencari Pujian

Padahal dalam Islam, ukuran keberhasilan seorang hamba tidak terletak pada seberapa terkenal, melainkan pada seberapa besar manfaat dan ketulusan yang lahir dari hidupnya. Rasulullah ﷺ bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Buah pada sebuah pohon merupakan simbol yang sangat menarik untuk direnungkan. Buah tidak pernah tumbuh untuk memamerkan dirinya. Ia tidak meminta perhatian dan tidak pula berusaha mencari pujian. Namun keberadaannya selalu memberi manfaat. Buah menjadi sumber makanan, memberikan kehidupan, dan menghadirkan kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya.

Demikian pula amal yang ikhlas. Amal yang dilakukan karena Allah sering kali tidak ramai dibicarakan manusia, tetapi memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi-Nya. Banyak kebaikan besar yang lahir dari orang-orang yang bahkan tidak dikenal oleh masyarakat luas. Mereka tidak memiliki panggung, tidak memiliki popularitas, dan tidak menjadi pusat perhatian. Namun amal mereka menjadi sebab turunnya keberkahan yang dirasakan oleh banyak orang.

Allah Melihat Akar, Bukan Sekadar Daun

Karena itulah Allah tidak menilai manusia berdasarkan kerindangan daunnya. Allah melihat akar yang tersembunyi di dalam tanah. Jika pohon adalah kehidupan seorang hamba, maka akar itu adalah niat. Akar yang kuat akan menghasilkan batang yang kokoh, cabang yang sehat, dan buah yang bermanfaat. Sebaliknya, akar yang rusak mungkin masih mampu menopang daun-daun yang tampak hijau untuk sementara waktu, tetapi lambat laun kerusakan itu akan terlihat pada hasilnya.

Allah memberikan perumpamaan yang indah dalam Al-Qur’an tentang pohon yang baik:

أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ  ۝٢٤تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ

“Akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, serta memberi buah pada setiap waktu.” (QS. Ibrahim: 24-25)

Ayat ini menunjukkan bahwa pohon yang baik bukan hanya bernilai dari tinggi dan rindangnya. Allah menegaskan bahwa pohon tersebut juga menghasilkan buah. Dengan kata lain, keimanan yang benar tidak berhenti pada pengakuan atau penampilan semata. Keimanan harus melahirkan akhlak yang baik, kejujuran, kelembutan, manfaat bagi sesama, serta berbagai amal saleh yang memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.

Pertanyaan yang Layak Diajukan kepada Diri Sendiri

Sesekali setiap manusia perlu berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan mengajukan pertanyaan yang jujur kepada diri sendiri. Apakah keberadaannya telah memberi manfaat bagi orang lain?sejauh ini, ucapan kita menghadirkan ketenangan atau justru melukai?serta amal yang kita lakukan benar-benar karena Allah atau hanya untuk mendapatkan penghargaan manusia? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting karena sering kali seseorang terlalu sibuk memperindah daun hingga lupa merawat akar.

Mungkin selama ini kita lebih fokus pada apa yang terlihat oleh manusia daripada apa yang terlihat oleh Allah. Kita merasa tenang ketika mendapatkan pujian, tetapi lalai ketika hati mulai kehilangan keikhlasan. Padahal yang akan menyelamatkan seseorang pada hari perhitungan bukanlah banyaknya tepuk tangan manusia, melainkan ketulusan yang tersimpan dalam amalnya.

Menjadi Pohon yang Berbuah di Hadapan Langit

Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi orang yang paling terkenal, paling dipuji, atau paling banyak diperhatikan. Hidup adalah kesempatan untuk menghadirkan manfaat dan meninggalkan jejak kebaikan yang bernilai di sisi Allah. Sebab ketika usia berakhir, yang akan tetap hidup bukanlah pujian manusia, melainkan amal-amal yang telah terlaksana dengan penuh keikhlasan.

Daun akan gugur. Wajah akan menua. Nama perlahan dilupakan. Namun buah yang lahir dari iman dan ketulusan akan terus memberikan manfaat bahkan setelah pemiliknya meninggalkan dunia.

Maka jangan hanya menjadi pohon yang rindang di mata manusia. Jadilah pohon yang juga berbuah di hadapan langit dan semesta.

Wallahu a’lam.

penulis: anugrah24

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2023 Miftahul Huda Pusat.

Cover
Radio Santri
Murottal, Kajian, dan Sholawat
🔉 🔊
A simple, neat ad bar featuring a few text ads appears at the bottom of every website within the network.